Minggu, 26 Januari 2014

Permainan Lucu Masa Kecil



Hari Minggu, tanggal 26 January 2014 kemaren, saya dan keluarga menyempatkan diri untuk refreshing di sebuah pusat perbelanjaan di dekat tempat tinggal kami. Salah satu tempat yang dituju adalah arena permainan anak, tempat yang selalu ‘dipesankan’ oleh adik saya setiap kita berpergian.

Namun ada yang sedikit berbeda di arena permainan anak itu. Di dekat pintu masuknya diletakkan sebuah panggung kecil beralas tikar pandan tempat orang bisa duduk lesehan diatasnya. Hal lain yang membuat unik adalah dengan diletakkannya satu set Congklak beserta kerang-kerangnya, siap untuk dimainkan.
Anehnya, setiap anak yang masuk tidak memperhatikan permainan congklak itu, sampai saya dan adik saya datang, adik saya pun mengatakan, ‘kak, disini ada congklak juga ya?’ syukurnya adik saya masih mengetahui permainan tradisional itu. Karna memang dirumah pun kami masih mempunyai dan memainkan permainan itu.
Tapi tetap saja adik saya tidak memilih congklak itu untuk dimainkan hehehe…
Tidak aneh, karena permainan anak zaman sekarang sudah sangat mengikuti perkembangan zaman dan cenderung lebih elektronis.
Karena alasan itulah, saya membuat tulisan ini, mencoba mengingat kembali dan mengabadikan permainan masa kecil dulu dalam tulisan, dengan harapan ini akan mengingatkan saya kembali ketika saya sudah semakin terseret oleh perkembangan teknologi di masa yang akan datang.
1.  Lompat Tali
Permainan ini adalah permainan dengan menggunakan karet gelang yang dijalin sedemikian rupa hingga membentuk tali yang panjang. Saya ingat dulu, rasanya menjadi orang paling kaya karena memiliki tali karet yang paling panjang dan tebal. Proses menjalin karet gelangnya sendiri adalah sebuah pengalaman yang berkesan dimana, kedua jempol kaki dimanfaatkan untuk menahan ujung karet gelang pertama dan kemudian menjalin karet gelang berikutnya hingga akhirnya memanjang.
Permainan ini dimainkan minimal oleh tiga orang (satu atau dua orang juga bisa sih asal bisa menemukan tiang yang bisa menahan tali tersebut). Permainan lompat tali ini ada bermacam-macam gerakan dan gayanya. Mulai dari melompati tali dari tinggi sejengkal, selutut, sepinggang, sedada, sedagu, setelinga, sekepala, dan bahkan hingga Merdeka (yaitu setinggi jangkauan tangan kita).
Untuk ketinggian hingga sepinggang, diharapkan pemain tidak boleh mengenai tali saat melompatinya, jika talinya goyang, maka dia harus berganti menjadi pemegang tali. Untuk ketinggian di atas sepinggang, tali boleh bergoyang, Permainan bagus banget buat motorik anak, melatih kaki saat melompat, dan secara tidak langsung belajar fisika saat menentukan jarak dan ancang-ancang untuk melompat.
Selain gerakan melompat itu tadi, ada juga gaya permainan tali karet ini yang berupa permainan kaki, dimana ada gerakan-gerakan zigzag dan juga gerakan kaki khusus yang membuat si orang tersebut bisa berada di sisi tali yang lain tanpa harus melompat. Ya rada ribet sih kalau dijelaskan dengan kata-kata, mungkin yang pernah mengalaminya bisa share detil gimana caranya.
2.  Permainan Pecah Genteng
Mungkin di tempat lain nama permainannya bisa beda-beda, tapi punya prinsip yang sama. Jadi kita menggunakan beberapa pecahan genteng tanah liat dan sebuah bola tenis (biasanya dulu kantong plastik yang digulung-gulung menjadi bola). Permainan ini terdiri dari dua tim, bisa berapa saja jumlahnya, tapi minimalnya empat orang agar bisa dimainkan dengan lebih seru.
Pecahan genteng ditumpuk hingga membentuk menara di dalam sebuah lingkaran yang sudah ditetapkan. Setiap anggota kelompok secara bergantian melemparkan bola tenis ke tumpukan genteng tersebut. Kelompok yang berhasil menjatuhkan tumpukan genteng harus segera berlari menghindari lemparan bola tenis dari tim lawannya. Tim yang kalah, mengejar tim yang menjatuhkan pecahan genteng dan berusaha mengenai mereka dengan bola, sambil berusaha menyusun pecahan genteng tersebut. Tim yang berlari berusaha menghindari lemparan bola, namun sambil berusaha mengganggu tim lawannya dalam menyelesaikan menyusun pecahan genteng tersebut. Ya permainannya seputar kegiatan berlari, melempar, menyusun dan mengobrak-abrik sususan genteng lawan. Jika ada anggota tim yang terkena lemparan bola, maka dia tidak boleh berlari dan mengobrak-abrik lag, hanya boleh sebagai penyemangat tim lainnya. Jika ada anggota tim yang berlari yang terkena lemparan bola, maka kondisi berbalik, tim yang tadinya bertugas melempar bola sekarang menjadi tim yang berlari.  Jika ada anggota tim penyusun yang berhasil menyusun ulang tumpukan genteng (dan selamat dari serangan tim yang berlari), maka tim tersebut menang dan permainan diulang dari awal.
3.  Permainan Gala Asin
Hehe, ntah kenapa namanya disebut begitu, nama permainan ini sering digunakan di Tanah Sunda, tempat saya menghabiskan masa kecil, mungkin daerah lain punya nama lain dengan permainan yang sama.
Permainan ini juga adalah permainan kelompok, dimana salah satu kelompok bertugas menjaga garis setiap lapis daerah untuk menuju ke ujung lapangan. Tempat permainannya dibuat berbentuk kotak. dengan lebar tertentu, dan bisa terdiri dari berlapis-lapis penjagaan tergantung panjang lapangan dan jumlah orangnya. Tim penjaga berusaha menghalang-halangi tim yang berusaha masuk menembus lapis demi lapis penjagaan untuk menuju ujung lapangan satunya. Setiap anak yang berusaha menembus penjagaan harus bisa bergerak segesit mungkin agar bisa bergerak mengecoh penjaga dan akhirnya masuk ke lapisan berikutnya. Demikian juga si penjaga, harus bergerak sama gesitnya untuk bisa menghalangi  orang yang akan melaluinya.
Tim penembus dikatakan menang jika seluruh anggotanya ada yang bisa menembus penjagaan hingga ujung lapangan. Jika semua tim gagal, maka tim penembus tersebut bertukar tempat menjadi tim penjaga.
Sungguh permainan yang menarik, mengajar anak untuk berpikir taktis dalam menembus pertahanan lawan atau untuk menahan lawan agar tidak dapat menembus pertahanannya.
Sebenarnya masih banyak lagi permainan lain dari masa kecil dulu, yang sebenarnya bermanfaat besar dalam perkembangan motorik dan kecerdasan anak. Sayang mungkin dengan semakin majunya teknologi dan semakin sedikitnya lapangan tempat bermain anak, sehingga permainan-permainan tersebut dilupakan.
Masih banyak yang ingin saya tulis tentang permainan masa kecil saya tersebut, namun untuk mencegah tulisan ini menjadi membosankan, maka akan dilanjut dalam tahap kedua berikutnya.
Itulah beberapa yang saya ingat, pasti masih banyak di berbagai daerah lain, hanya saja permainan diatas yang sering dimainkan saat saya masih kecil. Terimaksih J
http://beautymogul.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar